Para leluhur kita telah memberi kita banyak sekali contoh, begitupula alam yang setiap saat memberi kita sinyal -sinyal, tetapi kita tidak mampu membaca contoh leluhur kita dan menangkap suara - suara alam. Salah satu contoh yang pedanda kemukakan adalah tentang filsafat kepiting dan seekor belut. Suatu ketika saat pedanda memberikan dharma wacana di Pura Candi Rawi di daerah Jembrana, sesaat setelah dharma wacana pedanda disuguhi makanan yang lauknya membuat pedanda sedikit heran. Yang pertama adalah seekor kepiting besar lengkap dengan capitnya, dan yang kedua adalah belut yang besar, sebesar ibu jari. Yang menghaturkan makanan tersebut mengatakan bahwa di daerah mereka jika menghaturkan rayunan pedanda maka diharuskan berisi kepiting dan belut, itu merupakan tradisi dan warisan leluhur yang ada di sana. Kira - kira apa artinya? Kenapa para leluhur kita sampai mewariskan tradisi seperti itu? Inilah yang pedanda katakan sebagai salah satu contoh yang berupa sinyal - sinyal dari alam. Pedanda mencoba memahami maksud yang terkandung dari warisan leluhur tersebut. Akhirnya penda memahami bahwa lauk kepiting itu bersumber dari cerita tantri yaitu kisah pedanda baka yang tewas di capit kepiting. |
Showing posts with label HArd Rightz. Show all posts
Showing posts with label HArd Rightz. Show all posts
Wednesday, September 12, 2012
YUgA
ZamAn KAliyugA
Dalam ajaran agama Hindu, Kaliyuga (Dewanagari: कलीयुग) (disebut juga "zaman kegelapan") adalah salah satu dari empat jenjang zaman yang merupakan siklus dari Yuga. Jenjang yang lain bernama Dwaparayuga, Tretayuga, dan Satyayuga. Menurut Surya Siddhanta (kitab ilmu astronomis yang menjadi dasar perhitungan kalender Hindu dan Buddha), Kaliyuga dimulai tengah malam pada pukul 00.00 (atau 24.00), pada tanggal 18 Februari 3102 SM menurut perhitungan kalender Julian,[1] atau tanggal 23 Januari 3102 SM menurut perhitungan kalender Gregorian, yang mana pada saat tersebut diyakini oleh umat Hindu sebagai saat ketika Kresna meninggal dunia. Kali Yuga berlangsung selama 432.000 tahun. Pada zaman Kaliyuga, tingkat moralitas yang tersisa hanya seperempat dari yang ada pada zaman Satyayuga, sehingga lembu dharma hanya berdiri dengan satu kaki saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)





